Kamis, 07 November 2019

Dasar-Dasar Pencabutan Gigi


1. Definisi Pencabutan Gigi
Menurut Pedlar dan Frame, pencabutan gigi merupakan suatu prosedur bedah yang dapat dilakukan dengan menggunakan tang, elevator, atau penekanan trans alveolar.

Pencabutan gigi adalah pengangkatan gigi dari soketnya. Pencabutan gigi dapat dilakukan dengan lokal anestesi jika gigi terlihat jelas dan tampak mudah dicabut.

Ekstraksi gigi adalah suatu tindakan bedah pencabutan gigi dari soket gigi dengan alat-alat ekstraksi (forceps).
Kesatuan dari jaringan lunak dan jaringan keras gigi dalam cavum oris dapat mengalami kerusakan yang menyebabkan adanya jalur terbuka untuk terjadinya infeksi yang menyebabkan komplikasi dalam penyembuhan dari luka ekstraksi. Oleh karena itu, tindakan aseptik merupakan aturan perintah dalam bedah mulut.

Pencabutan gigi merupakan suatu proses pengeluaran gigi dari alveolus, di mana pada gigi tersebut sudah tidak dapat dilakukan perawatan lagi. Pencabutan gigi juga merupakan operasi bedah yang melibatkan jaringan bergerak dan jaringan lunak dari rongga mulut, akses yang dibatasi oleh bibir dan pipi, dan pencabutan selanjutnya dihubungkan/disatukan oleh gerakan lidah dan rahang. Definisi pencabutan gigi yang ideal adalah pencabutan tanpa rasa sakit satu gigi utuh atau akar gigi dengan trauma minimal terhadap jaringan pendukung gigi, sehingga bekas pencabutan dapat sembuh dengan sempurna dan tidak terdapat masalah prostetik di masa mendatang
Pencabutan gigi merupakan tindakan yang sangat komplek yang melibatkan struktur tulang, jaringan lunak dalam rongga mulut serta keseluruhan bagian tubuh. Pada tindakan pencabutan gigi perlu dilaksanakan prinsip-prinsip keadaan suci hama (asepsis) dan prinsip-prinsip pembedahan (surgery). Untuk pencabutan lebih dari satu gigi secara bersamaan tergantung pada keadaan umum penderita serta keadaan infeksi yang ada ataupun yang mungkin akan terjadi.

Selalu diingat bahwa gigi bukanlah “ditarik” melainkan dicabut dengan hati-hati. Hal ini merupakan prosedur pembedahan dan etika bedah yang harus diikuti guna mencegah komplikasi serius (fraktur tulang/gigi, perdarahan, infeksi). Gigi geligi memang banyak namun masing-masing gigi merupakan struktur individual yang penting, dan masing-masing harus dipelihara sedapat mungkin. Tujuan dari ekstraksi gigi harus diambil untuk alasan terapeutik atau kuratif.


Gambar 1: pencabutan gigi
Sumber: www.wikipedia.dentalextractioan.com


II. 2. Tujuan pencabutan gigi
Tujuan pencabutan gigi yaitu untuk menjaga gigi tetap sehat, untuk merawat fungsi mulut, untuk mengunyah secara tepat, dan untuk alasan estetika yang penting. Gigi tetap (seperangkat gigi yang tumbuh setelah gigi susu tanggal) akan ada seumur hidup. Namun, ada beberapa tujuan pencabutan gigi diperlukan, antara lain:
·         Untuk mencegah infeksi
Gigi yang rusak atau busuk dapat menjalar ke pulpa, yang terletak di tengah gigi dan terhubung dengan saraf serta pembuluh darah. Saat bakteri memasuki pulpa, infeksi dapat terjadi dan memburuk. Hanya pencabutan gigi atau terapi akar gigi yang menjadi pilihan untuk mencegah penyebaran infeksi.
·         Untuk mencegah resiko Infeksi
Pasien yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang terganggu (seperti penderita kanker atau pasien yang menerima donor organ) perlu melakukan pencabutan pada gigi tertentu untuk mencegah risiko infeksi.
·         Untuk mencegah infeksi menjadi semakin parah
Masalah gusi (Periodontal atau Penyakit Gusi) yang parah dapat menyebabkan infeksi pada gusi, jaringan, dan tulang yang menopang atau berada di sekitar gigi. Pencabutan gigi biasanya disarankan, untuk mencegah infeksi menjadi semakin parah.
·         Untuk mengatasi Mulut penuh
Saat gigi sudah tidak muat lagi di dalam mulut dan menggagu proses pengunyahan, gigi akan dicabut untuk memastikan gigi merata secara tepat.
·         Untuk mengatasi masalah Gigi Tumbuh secara Tidak Tepat (Impaksi)
Gigi geraham bungsu perlu dicabut jika tumbuh secara tidak normal atau tumbuh pada posisi yang salah.
·         Untuk tujuan kecantikan
Sebagian orang ingin melakukan pencabutan gigi untuk mengangkat gigi yang tidak enak dilihat, seperti gigi yang mengalami pewarnaan endogen karena merokok.


III.3. Klasifikasi ekstraksi
Pada dasarnya hanya ada dua cara pencabutan gigi, cara pertama yang sering dilakukan pada kebanyakan kasus biasanya disebut pencabutan dengan tang, yang terdiri atas pencabutan gigi atau akar gigi dengan menggunakan tang atau elevator (bein) atau keduanya. Metode ini disebut juga pencabutan intra-alveolar.
Metode yang lain adalah dengan pembelahan gigi atau akar gigi dari perlekatan tulangnya. Pemisahan ini dilakukan dengan membuang sebagian tulang yang menutupi akar gigi, kemudian pencabutan dilakukan dengan menggukan bein dan tang, metode ini disebut pencabutan trans-alveolar


            3.1 Pencabutan intra-alveolar
Pencabutan intra-alveolar adalah pencabutan gigi atau akar gigi dengan menggunakan tang atau bein atau dengan kedua alat tersebut. Metode ini sering juga disebut forceps extraction dan merupakan metode yang biasa dilakukan pada sebagian besar kasus pencabutan gigi.
Dalam metode ini instrumen yang digunakan yaitu tang atau bein ditekan masuk ke dalam ligamen periodontal diantara akar gigi dengan dinding tulang alveolar. Bila akar telah terpegang kuat oleh tang, dilakukan gerakan kearah buko-lingual atau buko-palatal dengan maksud menggerakkan gigi dari soketnya. Gerakan rotasi kemudian dilakukan setelah dirasakan gigi agak goyang. Tekanan dan gerakan yang dilakukan haruslah merata dan terkontrol sehingga fraktur gigi dapat dihindari.

1.2  Pencabutan trans-alveolar

Pada beberapa kasus terutama pada gigi impaksi, pencabutan dengan metode intra-alveolar sering kali mengalami kegagalan sehingga perlu dilakukan pencabutan dengan metode trans-alveolar. Metode pencabutan ini dilakukan dengan terlebih dahulu mengambil sebagian tulang penyangga gigi. Metode ini juga sering disebut metode terbuka atau metode bedah yang digunakan pada kasus-kasus:
a. Gigi tidak dapat dicabut dengan menggunakan metode intra alveolar
b. Gigi yang mengalami hipersementosis atau ankilosis
c. Gigi yang mengalami germinasi atau dilaserasi
d. Sisa akar yang tidak dapat dipegang dengan tang atau dikeluarkan dengan bein,terutama sisa akar yang berhubungan dengan sinus maxillaris.
Perencanaan dalam setiap tahap dari metode trans-alveolar harus dibuat secermat mungkin untuk menghindari kemungkinan yang tidak diinginkan. Masing-masing kasus membutuhkan perencanaan yang berbeda yang disesuaikan dengan keadaan dari setiap kasus. Secara garis besarnya, komponen penting dalam perencanaan adalah bentuk flep mukoperiostal dan cara yang digunakan untuk mengeluarkan gigi atau akar gigi dari soketnya serta seberapa banyak pengambilan tulang yang diperlukan.



1.3  Indikasi dan Kontraindikasi Pencabutan Gigi

3.3.1. Indikasi Pencabutan Gigi

Gigi mungkin perlu di cabut untuk berbagai alasan, misalnya karena sakit gigi itu sendiri, sakit pada gigi yang mempengaruhi jaringan di sekitarnya, atau letak gigi yang salah. Di bawah ini adalah beberapa contoh indikasi dari pencabutan gigi:
a.      Karies yang parah
Alasan paling umum dan yang dapat diterima secara luas untuk pencabutan gigi adalah karies yang tidak dapat dihilangkan. Sejauh ini gigi yang karies merupakan alasan yang tepat bagi dokter gigi dan pasien untuk dilakukan tindakan pencabutan.
b.      Nekrosis pulpa
Sebagai dasar pemikiran, yang ke-dua ini berkaitan erat dengan pencabutan gigi adalah adanya nekrosis pulpa atau pulpa irreversibel yang tidak diindikasikan untuk perawatan endodontik. Mungkin dikarenakan jumlah pasien yang menurun atau perawatan endodontik saluran akar yang berliku-liku, kalsifikasi dan tidak dapat diobati dengan tekhnik endodontik standar. Dengan kondisi ini, perawatan endodontik yang telah dilakukan ternyata gagal untuk menghilangkan rasa sakit sehingga diindikasikan untuk pencabutan.
c.       Penyakit periodontal yang parah
Alasan umum untuk pencabutan gigi adalah adanya penyakit periodontal yang parah. Jika periodontitis dewasa yang parah telah ada selama beberapa waktu, maka akan nampak kehilangan tulang yang berlebihan dan mobilitas gigi yang irreversibel. Dalam situasi seperti ini, gigi yang mengalami mobilitas yang tinggi harus dicabut.

d.      Alasan orthodontik
Pasien yang akan menjalani perawatan ortodonsi sering membutuhkan pencabutan gigi untuk memberikan ruang untuk keselarasan gigi. Gigi yang paling sering diekstraksi adalah premolar satu rahang atas dan bawah, tapi premolar ke-dua dan gigi insisivus juga kadang-kadang memerlukan pencabutan dengan alasan yang sama.
e.       Gigi yang mengalami malposisi
Gigi yang mengalami malposisi dapat diindikasikan untuk pencabutan dalam situasi yang parah. Jika gigi mengalami trauma jaringan lunak dan tidak dapat ditangani oleh perawatan ortodonsi, gigi tersebut harus diekstraksi. Contoh umum ini adalah molar ketiga rahang atas yang keluar kearah bukal yang parah dan menyebabkan ulserasi dan trauma jaringan lunak di pipi. Dalam situasi gigi yang mengalami malposisi ini dapat dipertimbangkan untuk dilakukan pencabutan.
f.        Gigi yang retak
Indikasi ini jelas untuk dilakukan pencabutan gigi karena gigi yang telah retak. Pencabutan gigi yang retak bisa sangat sakit dan rumit dengan tekhnik yang lebih konservatif. Bahkan prosedur restoratif endodontik dan kompleks tidak dapat mengurangi rasa sakit akibat gigi yang retak tersebut.
g.      Pra-prostetik ekstraksi
Kadang-kadang, gigi mengganggu desain dan penempatan yang tepat dari peralatan prostetik seperti gigitiruan penuh, gigitiruan sebagian lepasan atau gigitiruan cekat. Ketika hal ini terjadi, pencabutan sangat diperlukan.
h.      Gigi impaksi
Gigi yang impaksi harus dipertimbangkan untuk dilakukan pencabutan. Jika terdapat sebagian gigi yang impaksi maka oklusi fungsional tidak akan optimal karena ruang yang tidak memadai, maka harus dilakukan bedah pengangkatan gigi impaksi tersebut. Namun, jika dalam mengeluarkan gigi yang impaksi terdapat kontraindikasi seperti pada kasus kompromi medis, impaksi tulang penuh pada pasien yang berusia diatas 35 tahun atau pada pasien dengan usia lanjut, maka gigi impaksi tersebut dapat dibiarkan.
i.        Supernumary gigi
Gigi yang mengalami supernumary biasanya merupakan gigi impaksi yang harus dicabut. Gigi supernumary dapat mengganggu erupsi gigi dan memiliki potensi untuk menyebabkan resorpsi gigi tersebut.
j.        Gigi yang terkait dengan lesi patologis
Gigi yang terkait dengan lesi patologis mungkin memerlukan pencabutan. Dalam beberapa situasi, gigi dapat dipertahankan dan terapi terapi endodontik dapat dilakukan. Namun, jika mempertahankan gigi dengan operasi lengkap pengangkatan lesi, gigi tersebut harus dicabut.
k.       Terapi pra-radiasi
Pasien yang menerima terapi radiasi untuk berbagai tumor oral harus memiliki pertimbangan yang serius terhadap gigi untuk dilakukan pencabutan.
l.        Gigi yang mengalami fraktur rahang
Pasien yang mempertahankan fraktur mandibula atau proses alveolar kadang-kadang harus merelakan giginya untuk dicabut. Dalam sebagian besar kondisi gigi yang terlibat dalam garis fraktur dapat dipertahankan, tetapi jika gigi terluka maka pencabutan mungkin diperlukan untuk mencegah infeksi.
m.    Estetik
Terkadang pasien memerlukan pencabutan gigi untuk alasan estetik. Contoh kondisi seperti ini adalah yang berwarna karena tetracycline atau fluorosis, atau mungkin malposisi yang berlebihan sangat menonjol. Meskipun ada tekhnik lain seperti bonding yang dapat meringankan masalah pewarnaan dan prosedur ortodonsi atau osteotomy dapat digunakan untuk memperbaiki tonjolan yang parah, namun pasien lebih memilih untuk rekonstruksi ekstraksi dan prostetik.
n.      Ekonomis
Indikasi terakhir untuk pencabutan gigi adalah faktor ekonomi. Semua indikasi untuk ekstraksi yang telah disebutkan diatas dapat menjadi kuat jika pasien tidak mau atau tidak mampu secara finansial untuk mendukung keputusan dalam mempertahankan gigi tersebut. Ketidakmampuan pasien untuk membayar prosedur tersebut memungkinkan untuk dilakukan pencabutan gigi.

3.3.1.Kontraindikasi Pencabutan Gigi

Semua kontraindikasi baik lokal ataupun sistemik, dapat relatif bergantung pada kondisi umum pasien.
a. Lokal
·         Periapikal patologi, jika pencabutan gigi dilakukan maka infeksi akan menyebar luas dan sistemik, jadi antibiotik harus diberikan sebelum dilakukan pencabutan gigi.
·         Adanya infeksi oral seperti Vincent’s Angina, Herpetic gingivostomatitis. Hal ini harus dirawat terlebih dahulu sebelum dilakukan pencabutan gigi.
·         Perikoronitis akut, perikoronitis harus dirawat terlebih dahulu sebelum dilakukan pencabutan pada gigi yang terlibat, jika tidak maka infeksi bakteri akan menurun ke bagian bawah kepala dan leher.
·         Penyakit ganas, seperti gigi yang terletak di daerah yang terkena tumor. Jika dihilangkan bisa menyebarkan sel – sel dan dengan demikian mempercepat proses metastatik.
·         Pencabutan gigi pada rahang yang sebelumnya telah dilakukan iradiasi dapat menyebabkan osteoradionekrosis, oleh karena itu harus dilakukan tindakan pencabutan yang sangat ekstrem atau khusus.
b. Sistemik
·         Diabetes tidak terkontrol, pasien diabetes lebih rentan terhadap infeksi dan proses penyembuhan lukanya akan lebih lama. Pencabutan gigi harus dilakukan setelah melakukan diagnosis pencegahan yang tepat pada penyakit diabetes pasien dan dibawah antibiotik profilaksis.
·         Penyakit jantung, seperti hipertensi, gagal jantung, miokard infark, dan penyait arteri koroner.
·         Dyscrasias darah, pasien anemia, hemofilik dan dengan gangguan perdarahan harus ditangani dengan sangat hati – hati untuk mencegah perdarahan pasca operasi yang berlebihan.
·         Medically compromised, pasien dengan penyakit yang melemahkan ( seperti TB ) dan riwayat medis miskin harus diberikan perawatan yang tepat dan evaluasi preoperatif kondisi umum pada pasien adalah suatu keharusan.
·         Penyakit Addison’s dan pasien yang menjalani terapi steroid dalam jangka waktu yang lama, krisis Hipoadrenal dapat terjadi pada pasien karena terjadi peningkatan stress selama prosedur perawatan gigi. Untuk mencegah terjadinya hal tersebut dapat diberikan 100mg Hidrocortisone sebelum dilakukan perawatan.
·         Demam yang asalnya tidak dapat dijelaskan, penyebab paling umum dari demam yang tak dapat dijelaskan sebabnya adalah endokarditis bakteri subakut dan apabila dilakukan prosedur ekstraksi dalam kondisi ini dapat menyebabkan bakteremia, perawatan yang tepat harus dlakukan.
·         Nephritis, ekstraksi gigi yang terinfeksi kronis sering menimbulkan suatu nefritis akut maka sebelum pemeriksaan gigi menyeuruh harus dilakukan.  Kehamilan, prosedur pencabutan gigi harus dihindari pada priode trimester pertama dan ketiga dan harus sangat berhati-hati apabila akan melakukan prosedur radiografi dan juga dalam pemberian obat – obatan.
·         Selama masa mestruasi, karena ada perdarahan lebih lanjut, pasien secara mental tidak begitu stabil.
·         Penyakit kejiwaan, tindakan pencegahan yang tepat dan obat – obatan harus diberikan pada pasien neurotic dan psychotic.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar